Showing posts with label Malam Puisi. Show all posts
Showing posts with label Malam Puisi. Show all posts

Wednesday, May 25, 2016

Resensi Buku: Cerpen Pilihan Kompas 2014

Judul: Cerpen Pilihan Kompas 2014
Penulis: Penulis Terpilih Kompas 2014
Penerbit: PT Kompas Media Nusantara
Tahun Terbit: 2015
Dimensi: xvi + 200 halaman, 21 cm
ISBN: 978-979-709-949-7



Di Tubuh Tarra, dalam Rahim Pohon adalah judul cerpen yang terpilih untuk mewakili Kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2014 bersama 23 cerpen terpilih lainnya yang juga dimuat dalam kumpulan ini. Cerpen yang dipilih para juri ini adalah karya Faisal Oddang, seorang pengarang muda dari Makassar yang aktif menjadi penggerak komunitas penulis Lego-Lego dan Malam Puisi Makassar. Suatu hal yang membanggakan karena Faisal bersanding dengan penulis-penulis senior lainnya, di antaranya Sapardi Djoko Damono, Joko Pinurbo, Afrizal Malna, Seno Gumira Ajidarma, Putu Wijaya, dan nama lainnya yang telah akrab di dunia kepenulisan.

Hampir semua cerpen yang ada dalam antologi ini dapat dijadikan favorit, menciptakan dialog sendiri di kepala, dan ada pula yang membuat hati tergetar saat membaca kemudian tercenung untuk beberapa saat.

Lagi-lagi mengusung tema cinta, Joyeux Anniversaire (Selamat Ulang Tahun) karya Tenni Purwanti begitu menggetarkan. Cerpen Tenni menunjukkan efek destruktif dari cinta, namun tetap saja indah dan tak dapat dielak.

Jalan Sunyi Kota Mati (Radhar Panca Dahana) dan Matinya Seorang Demonstran (Agus Noor) membuat gemas dengan caranya masing-masing mengolah fenomena terkait opini publik.

Menunda-nunda Mati (Gde Aryantha Soethama), Bulu Bariyaban (Zaidinoor), Bukit Cahaya (Yanusa Nugroho) dan Beras Genggam (Gus TF Sakai) mengajak kita 'berwisata' ke dalam nuansa budaya yang berbeda-beda, lengkap dengan petuah, pesan alam dan kisah magisnya.

Kaing-kaing Anjing Terlilit Jaring (Parakitri T. Simbolon) dan Jalan Asu (Joko Pinurbo) mengajak kita berpikir dan merenung. Sesungguhnya setiap hal sederhana yang terjadi, cepat atau lambat, dapat kita petik maknanya untuk melengkapi kearifan hidup.

Kerinduan kepada Sapardi Djoko Damono dijawabnya dengan Lima Cerpen super singkat dan segar, yang menceritakan kematian secara terang dan tersirat.

Sejak pemilihan diselenggarakan tahun 1992, 24 cerpen adalah jumlah terbanyak yang pernah dimuat dalam sebuah buku antologi Cerpen Pilihan Kompas. Mengutip pernyataan Putu Fajar Arcana, "Cerpen-cerpen dalam buku ini mewakili tiga generasi cerpenis Indonesia. Dari mereka kita bisa merunut pertumbuhan cerpen-cerpen Indonesia setidaknya dalam empat dekade terakhir. Kita juga bisa melacak jejak-jejak sosial dan kultural, yang begitu terasa dalam karya-karya mereka."

****

Saturday, May 21, 2016

Resensi Buku: Protokol Hujan

Judul: Protokol Hujan
Penulis: Arco Transep
Penerbit: Indie Book Corner
Tahun Terbit: 2016
Genre: Kumpulan Puisi
Dimensi: 100 halaman, 19,5 cm
ISBN: 968-602-3091-41-3






Setelah bertahun-tahun menggeluti dunia kepenulisan, akhirnya Arco Transep hadir dengan kumpulan puisi pertamanya, Protokol Hujan. Protokol hujan adalah kumpulan puisi Arco dalam rentang waktu 2009 hingga 2015, setelah sebelumnya banyak karyanya yang dimuat berbagai media cetak secara terpisah.

Arco adalah orang yang peka dan berhasil menggambarkan segala rasanya melalui kata. Arco cerdas memilih kata, sederhana dan mengena. Seperti teriakan hati yang secara teratur keluar satu per satu minta dibaca, dan ya, terbaca. Sangat jelas. Puisi-puisi Arco menggambarkan perpisahan, kenangan, kehilangan, dan kepulangan. Saat membaca puisi-puisi Arco, saya kadang terhenti dan membaca ulang lagi dari awal karena ingin meresapi perasaan yang tiba-tiba datang di tengah maupun akhir puisinya.


Suatu hari aku ingin pergi ke gunung-gunung yang pasrah menerima lelah.
Mungkin ke hutan-hutan yang membuat tenang.
Atau mungkin ke pantai-pantai yang tak menolak dideru air-air asin yang dibawa lautan.

Suatu hari aku ingin pergi, tanpa meninggalkan jejak raut di ingatanmu.
Mungkin air mata yang membuatmu menyesali kehilangan kehilangan berkali-kali.
Atau mungkin diam-diam beranjak sebelum kau berharap pagi dan aku tetap di sampingmu.

Suatu hari aku ingin kita pergi tanpa sepatah kata, tanpa puisi yang akan kau baca saat sunyi, juga tanpa nyeri yang membuat matamu perih dan masuk angin.
Sebab, suatu hari kita akan berpapasan dan takkan saling mengenali.

Jejak Kepulangan - Arco Transep

Endorsement:
Dalam puisi-puisi di buku ini, kita bisa melihat Arco seolah selalu sensitif dengan segala hal. Apa yang ia lihat, ia rasakan, semuanya ia jahit dalam kata-katanya. Arco seolah memiliki indra yang peka. Ia merasakan desir angin, membaca berita cuaca, memendam dan menyatukannya dengan apa yang ia rasakan, lalu menulisnya dengan hati-hati sebagai puisi. Kalimat-kalimatnya sederhana dan lugas, ia tak kewalahan dengan beban bahasa. Rasanya semua bekal sensitifitas itu sudah cukup sebaga bekalnya berjalan di jalan kepenyairan.
~ Irwan Bajang, Penulis Buku Puisi Kepulangan Kelima.

Puisi selalu dibentuk dari perhatian. Dan perhatian memerlukan kepekaan yang cukup untuk dapat melihat kebanyakan yang luput dilihat. Kepekaan itu pun harus dibarengi dengan keterampilan bahasa yang butuh terus diasah, bak sebuah pisau, lebih tajam lebih dapat menusuk hingga ke dalam. Harko memiliki kepekaan itu dan dalam kumpulan puisi ini, kita dapat melihat cara Harko mengasah pisaunya.
~ Pringadi Abdi Surya, Penyair dan Penulis Novel 4 Musim Cinta.

Seperti memaknai tujuan perjalanan, membaca "Protokol Hujan", ada yang menancapkan mantra dalam-dalam ke liang ingatan; bahwa kilometer adalah nol, namun seakan ada pula yang mengulurkan tangan, hendak mengajak kembali bertamasya ke masa lampau. Harko Transep tahu betul cara menuliskan jejak hati di setiap halaman bukunya. Selamat merayakan kepulangan, kumpulan puisi yang menyenangkan!
~ Delbin Clyte, Novelis dan Penulis Skenario.

Ada puisi yang lancar dituliskan, namun ada juga pengalaman batin yang sukar diungkapkan. Demikianlah penyair belajar dan terus belajar untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Hingga puisi sampai kepadamu.
~ Nanang Suryadi, Penyair dan Dosen Universitas Brawijaya.

***

Setelah pertama kalinya launching di Jogja bersama Indie Book Corner dalam "Bincang Buku & Baca Puisi Protokol Hujan" pada 6 Mei lalu, kini giliran Palembang yang akan menyambut dalam "Malam Puisi Protokol Hujan". Malam ini.


Malam Puisi Palembang ke-31 akan hadir

.
"PROTOKOL HUJAN"

Peluncuran, Pembacaan dan Bedah buku puisi milik Arco Transept

Sabtu, 21 Mei 2016
19.00
Di Gowes Chat And Fun


Datang, Dengar dan Bacakan Puisimu!
Sampai bertemu.