Tuesday, June 7, 2016

Resensi Buku: Cerpen Pilihan Kompas 2013

Judul: Cerpen Pilihan Kompas 2013
Penulis: Penulis Terpilih Kompas 2013
Penerbit: PT Kompas Media Nusantara
Tahun Terbit: 2014
Dimensi: xx + 248 halaman, 21 cm
ISBN: 978-979-709-838-4


Tahun 2014 lalu akhirnya dirangkum cerpen-cerpen terpilih dari seluruh cerpen yang terbit di Kompas sepanjang tahun 2013. Sebanyak 23 cerpen terpilih ini mewakili empat analogi peran bahasa. Menurut Bambang Sugiharto, Guru Besar Estetika Universitas Parahyangan Bandung, bahasa dapat berperan sebagai semacam kuda, sejenis mata bor, sebuah kamera dan sebagai kemungkinan terbuka yang dapat mewujud menjadi apa saja.


1
~~~
Jika bahasa adalah kuda, maka cerpen menungganginya dan membimbing kita ke berbagai ranah asing; ranah yang mungkin tak pernah terlihat di peta, namun sebenarnya berada di sekeliling. Banyak cerpen di buku ini membawa kita antara lain ke ranah mitos, memasuki aura mistiknya, dan memain-mainkan logika surealisnya.
~~~

Cerpen "Trilogi" dari A. Muttaqin mengantar kita ke sebuah kota yang memiliki sumur misterius, sumur jelmaan kemaluan, yang mengeluarkan burung iblis dan sepuluh malaikat.

"Bulan Biru" karya Gus tf Sakai membawa kita ke sebuah dunia tempat binatang bisa berbicara seperti manusia. Ada apercakapan antara kura-kura, bebek dan gadis kecil di bawah bulan biru, "saat waktu terlipat, saat ujung bertemu ujung": percakapan tentang peran bangunan-bangunan monumental dalam kekuasaan otokrasi, yang dibuat untuk mengelabui rakyat.

Cerita "Ulat Bulu dan Syekh Daun Jati" karya Agus Noor menyeret kita ke sebuah hutan jati di kampung Jatilawang untuk menyaksikan perang tanding antara seorang sakti bersorban --yang melayang di atas daun-- dengan pimpinan ulat bulu, ulat jelmaan kebencian korban pembantaian yang menuntut keadilan. Di sini kita diingatkan kembali pada trauma sejarah yang sering dianggap berlalu bersama waktu.

Dewi Utari dengan "Pada Jam 3 Dini Hari" mengajak kita ke sebuah gazebo di belakang rumah. Di sana kita melihat pertemuan seorang pelukis dengan perempuan misterius setiap jam 3 dini hari. Perempuan itu berhasil membangkitkan inspirasi sang pelukis dengan cerita-cerita mistisnya.

Kita menuju ke Jakarta bersama F Rahardi dan cerpennya "Amin". Kita diturunkan di depan Istana Merdeka, di sana ada seorang aneh yang sepanjang hari bersila dengan tangan sedekap menatap lurus ke istana. Setiap pertanyaan, komentar atau reaksi apa pun dari orang sekeliling, dijawabnya dengan satu kata: "Amin". Sikap yang aneh tersebut menimbulkan kecurigaan dan kemarahan tentara sehingga dia diusir dengan berbagai cara sampai diberondong senapan mesin dari sebuah tank, namun ia tetap tak terusik. Massa lantas mengelu-elukannya. Sebuah parodi tajam atas sikap paranoid aparat sekaligus atas kekonyolan pola pikir mistis para masyarakat.


2
~~~
Jika bahasa adalah mata bor, maka cerpen menggunakannya untuk menembus permukaan pengalaman keseharian, mengintip lapisan-lapisannya yang lebih dalam, menelisik aneka misteri dan ambiguitas batinnya yang paling tersembunyi. Beberapa cerpen di buku ini seperti lubang-lubang intip kecil ke arah realitas yang kerap terselubung.
~~~

Cerpen "Serigala di Kelas Almira " tulisan Triyanto Triwikromo memungkinkan kita mengintip ceruk-ceruk dunia mental anak-anak berkebutuhan khusus, yang kerap tak lazim, pelik dan mendebarkan.

Cerpen "Saia" karya Djenar Maesa Ayu, mengajak kita menyelami keterpecahan mental seorang anak yang hidup dalam ambivalensi sikap kedua orang tuanya: kasih sayang penuh kekerasan.

"Rumah Tuhan" dari AK Basuki membuat kita meneropong keunikan sikap batin seorang ibu melalui kacamata seorang anak. Ibu yang telah puas dengan kebahagiaannya sendiri, lantas menganggap derita dan sakit orang lain menjadi miliknya juga. Maka kegiatan utamanya adalah mengunjungi orang-orang sakit, yang diyakininya sebagai 'rumah Tuhan'. Keyakinan ini tetap konsisten bahkan ketika yang sakit dan harus dikunjunginya adalah mantan suaminya yang telah berkhianat. Sebuah misteri kematangan batin manusia yang bisa tak terduga.

Sudut pandang ruh anak-anak digunakan pada cerita "Malam Hujan Bulan Desember" dari Guntur Alam. Di sana kita melihat misteri batin seorang ayah yang kendati membunuh istri dan anaknya, matanya berkaca-kaca setelah melakukannya.

Sungging Raga dengan "Alesia" bercerita tentang perasaan seorang anak yang mengorbankan diri demi kesembuhan ibunya.

Persepsi mental yang unik kita dapati pada cerpen Arswendo Atmowiloto, "Nenek Grendi Punya HP, tapi Berharap Sungai". Di sini kita menemukan persepsi seorang nenek yang ganjil atas realitas. Di antara banyak keganjilan itu yang paling aneh adalah ketika ia bercita-cita membeli sungai, dan alasannya sederhana, "karena sungai mengalir".

Putu Wijaya dengan karyanya "Eyang" membuka mata kita atas ambiguitas sikap mental manusia dalam hubungan-hubungan sosialnya. Seseorang yang sedang bokek berat dititipi orang tua (Eyang) oleh si bos yang hendak pergi liburan. Eyang yang dikira akan menjadi beban ternyata justru menjadi berkah yang menghidupkan.

Paradoks-paradoks sikap manusia memang bisa membingungkan. Hal itu tampak pada karya Jujur Prananto, "Piutang-piutang Menjelang Ajal". Chaerul berutang besar pada pamannya, namun ketika pamannya menghapuskan utangnya, ia malah kena stroke.


3
~~~
Jika bahasa adalah kamera, maka cerpen menggunakannya untuk menangkap impresi sekelebat yang mengisyaratkan berbagai kemungkinan makna; membuat snapshot yang mengubah suasana menjadi tanda.
~~~

Cerpen "Kota Tanpa Kata dan Air Mata" dari Noviana Kusumawardhani memotret kota, menangkap kenyataan bahwa di balik hiruk-pikuk suasana mal, jalanan, bus kota, kafe atau stasiun itu, ternyata ada kesunyian mendasar. Kesunyian karena seluruh kota telah dirajai teks, orang-orang dibelenggu teks (sms, sosial media dan surat-surat elektronik pada gadget mereka). Teks telah memenjarakan manusia di dunianya masing-masing.

Budi Darma lewat karyanya "Percakapan" memberikan snapshot tentang pertemuan dia orang di sebuah kedai kopi. Awalnya mereka terkesan tidak saling kenal, namun perlahan-lahan percakapan mereka menunjukkan bahwa antara keduanya pernah terjadi peristiwa besar yang mengubah hidup masing-masing dan menyisakan dendam berkelanjutan.

"Pengacara Pikun" karya Gerson Poyk dan beberapa cerpen lain di buku ini seperti "Serpihan di Teras Rumah" dari Zaidinoor, "Sumpah Serapah Bangsawan" dari Gde Aryantha Soethama, dengan cara masing-masing adalah juga berbagai jepretan yang menyiratkan persoalan lebih besar di balik kesan permukaan.

4
~~~
Jika bahasa adalah kemungkinan, maka cerpen memberinya wujud, membuatnya menjadi apa saja, sesuai kecakapan penulisnya.
~~~

Cerpen menjadi cermin yang memantulkan wajah interior buruk seorang pembunuh misterius pada cerpen "Aku, Pembunuh Munir" karya Seno Gumira Ajidarma, salah satu cerpen paling kreatif di buku ini. Isi cerpen ini perpaduan menarik antara kejelian menggunakan data, penelusuran logika ala detektif, dan sarkasme yang tajam. Bentuknya berupa monolog pengakuan diri. Strukturnya eksperimental, alur cerita disisipi kutipan percakapan konyol dari proses pengadilan, juga diselipi puisi penguat suasana dan emosi.

Pada karya Joko Pinurbo, "Laki-laki Tanpa Celana", kata-kata dan kenyataan saling berkelindan. Puisi berinkarnasi menjadi peristiwa. Peristiwa menguap menjadi imajinasi. Cerpen ini mengembalikan daya magis pada bahasa, pada kata-kata.

Keterampilan mengubah bahasa menjadi garis-garis sketsa impresionis yang ringkas dan bernas tampil paling mempesona pada cerpen "Klub Solidaritas Suami Hilang" dari Intan Pramaditha. Dengan serba singkat dan efisien, namun tanpa kehilangan plastisitas, cerpen ini melukiskan keunikan dan kompleksitas hubungan-hubungan pernikahan yang mendadak patah secara tak terduga. Metafor-metafornya segar, kadang mengejutkan. seolah sambil lalu tanpa banyak pretensi, cerpen ini menyibak aneka kebusukan, kepahitan, dan misteri hubungan antarmanusia, secara jeli, mendalam, dan menikam. Segala keterampilan yang dituntut untuk mencipta sebuah cerita pendek yang bagus ternyata berkulminasi pada cerpen ini.

***

Sebagai catatan, ulasan tentang buku ini merupakan kutipan dari Epilog "Catatan Pendek Atas Cerita-Cerita Pendek" yang ditulis oleh Bambang Sugiharto, Guru Besar Estetika Universitas Parahyangan Bandung. Saya menganggap bahasan ini merupakan gambaran lengkap dan sangat mewakili kesan saya setelah membaca Kumpulan Cerpen Kompas 2013.

2 comments: